Ini kali kedua, ‘pertemuan’ saya dengan preman berjubah. Pertama kali disini.
Masih dengan gaya barbar, seperti tidak pernah move on saja.
Tadi malam, dalam diskusi santai dengan Irshad Manji, yang baru merilis buku terbarunya: Allah, Liberty and Love, The Courage to Reconcile Faith and Freedom, yang diadakan di LKIS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial) Yogyakarta.
Dimulai tepat jam 19.00. Saya datang 19.05.

Manji duduk santai ditemani penerjemah dan moderator. Sedikit memberikan gambaran tentang dirinya, sebelum menerima pertanyaan dari peserta diskusi.

Inti pertanyaan pertama tepat mengenai subtitle buku barunya, how to reconcile faith and freedom? Dan Manji mengingatkan kita semua untuk tetap rendah hati dengan ayat Al Qur’an 3:7. Sebagaimanapun kita berpikir kita benar, hanya Allah yang memliki kebenaran sejati dan seutuhnya.
Seru kan?
Pertanyaan kedua dan ketiga ditanyakan.
Belum terjawab, datanglah gerombolan preman berjubah atas nama Majelis Mujahiddin Indonesia mendobrak pagar besi yang terkunci. Saya tahu pasti terkunci, lha wong saya mau masuk bukan lewat pagar besi itu, melainkan lewat pintu ruang tamu.
Piring-piring isi pisang goreng, kacang rebus, ketela goreng berhamburan pecah ditendang. Pot beterbangan menabrak jendela kaca, beberapa pecah.
Teriakan intimidasi untuk menghancurkan Manji membahana. Manji dipagar betis oleh sejumlah teman-teman perempuan di tengah, agar selamat dari tangan-tangan preman berjubah.
Beberapa teman mencoba komunikasi dengan para preman berhasil memar dan luka lecet karena didorong dan diadu dengan pangkal parang. Beberapa perempuan juga merasakan tamparan. Bahkan jilbab tidak dapat menyelamatkan.

Dari komando seseorang berjubah gelap (yang saya lihat), masa preman kemudian keluar, masih mengepung sampai polisi datang.
Polisi datang kemudian aman? Oh tentu tidak.
Dian Paramita minta perlindungan, eh dipersalahkan karena perijinan bla bla bla. Monas, 1 Juni 2008 terulang kembali.

Gagal. Total. Indonesia tidak aman.
Negara ini sudah dikangkangi oleh preman berjubah.
Sebenarnya, seharusnya saya sudah paham semenjak 1 Juni 2008, negara ini memang sudah gagal sebagai negara demokrasi. Manji was lucky as she’s foreigner. Coba kalau dia lokal, mungkin tidak akan seberuntung itu.
Apapun yang ditulis Manji atau siapapun dalam media apapun, tidak seharusnya menjadi pembenaran bagi pihak yang berseberangan untuk mengintimidasi dan melakukan tindak kekerasan dengan dasar alasan apapun. Tapi tidak di Indonesia, negara yang dikangkang preman berjubah.