Selamat atau Tidak Selamat

Jelang 25 Desember dan 14 Februari itu isunya sama. Selamat atau tidak selamat. Sadar tak?

Saya tidak akan berdebat mengenai dasar teori boleh tidaknya mengucapkan selamat hari raya keagamaan lain atau meski bukan hari raya keagamaan, namun diasosiasikan dengan agama lain. Perdebatan di ranah itu, tidak akan mencerahkan siapapun, menurut saya.

Namun, ketika perdebatan dan fatwa yg memuat anjuran untuk tidak mengucapkan selamat diangkat ke media yg dapat diakses secara bebas, sungguh rawan. Rawan apa? Rawan distorsi berbagai pihak, mulai dari sumber berita sampai dengan gaya penulisan berita. Rawan misinterpretasi yg bisa mengarah ke intoleransi.

Toleransi itu sebenarnya kata yg jahat, menurut saya.
Seperti berkata, “Kamu melakukan kesalahan, tapi saya dapat mentolerir kesalahanmu.”

Namun, bolehlah kita bahas si toleransi ini.

Toleransi tidak berkorelasi dengan selamat atau tidak selamat. Dengan mengucapkan selamat, bukan berarti sudah melakukan toleransi beragama. Ucapan selamat, menurut saya, lebih kepada sifat manusia sebagai mahluk sosial, yg ingin bermasyarakat sesuai dengan panggilan alaminya. Dalam perspektif saya, mengucapkan selamat merayakan hari raya, tidak lebih dari sikap santun karena kita mengenal secara pribadi ybs dan agama yg dianut ybs.

Apakah kita menyalahkan tetangga, teman, kerabat yg beragama lain, dan ketika kita mengucapkan selamat, kita sudah mentolerir mereka? Tentu tidak, bukan 🙂 We just simply acknowledge their religion and being polite, since we live side by side in this world, greet them in their happy days.

Meski tidak berkorelasi dengan toleransi, pemberitaan selamat atau tidak selamat ini benar-benar bisa mengarahkan masyarakat pada umumnya untuk bertindak intoleran. Bagaimana? Dengan logika mengucap selamat adalah awal dari pindahnya keyakinan kita ke agama ybs. Hari ini mengucap selamat, esok memakai atributnya, lusa datang ke tempat ibadahnya, seminggu kemudian jadilah kita seorang yg berpindah keyakinan.

Alhasil, ucapan selamat yg seharusnya menjadi hal yg simpel dan ringan, menjadi berat dan penuh dengan kecurigaan. Dan biasanya kecurigaan berujung keragu-raguan dan ketakutan yg kemudian berujung pada diam, and there goes our nature as social beings. Atau lebih parah, ketika kecurigaan itu akhirnya menentukan dengan siapa kita bersosialisasi. Dari komunitas bersama menjadi eksklusif komunitas seagama. Now, we can say good bye to the great sloganbhinekka tunggal ika‘.

Jadi, demikian ilustrasi selamat atau tidak selamat dengan si toleransi.

Meski pandangan saya ini berat sebelah, cenderung pada selamat daripada tidak selamat, namun pastinya saya kembalikan kepada niat masing-masing. Jika meyakini kehidupan sosial bisa tanpa selamat, kenapa tidak? Namun ketika selamat dapat menghangatkan relasi, silaturahmi, dan pastinya tidak semudah itu menggoyahkan keyakinan kita, ya juga kenapa tidak?

Saya hanya terganggu dengan penyebaran perdebatan tak mencerahkan melalui media apapun tentang selamat dan tidak selamat ini. Semoga kita semua menyadari, isu ini rajin diulang-ulang, pastinya bukan untuk kepentingan perdamaian bersama.Selamat Hari Raya

Siapa Lawan Hidupmu?

Dari masa SD dulu, dalam pelajaran agama Hindu yg diberikan kepada saya, saya diajari bahwa musuh terbesar manusia itu ada dalam diri manusia itu sendiri. Sad Ripu, 6 musuh dalam diri manusia, yg terdiri dari kama (nafsu/keinginan), lobha (tamak), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (iri hati). Entah kenapa, pelajaran itu melekat dalam pola pikir, sadar atau tidak, sehingga saya jarang sekali berniat bermusuhan dengan siapa pun. *tsaaaaaah*

Setelah sekian tahun merasa aman karena merasa tidak punya musuh, eh ternyata minggu lalu kenalan sama musuh yg nyata ada di luar diri. Nama musuhnya: inflasi.

Dulu si inflasi ini, karena di luar diri, ya tidak dianggap musuh. Laporan kenaikan inflasi tiap tahun, yg diiringi kenaikan harga beras dan bahan-bahan pokok tiap tahun pun hanya sekedar jadi informasi. Kenaikan harga-harga pun akhirnya diakali dengan mengetatkan ikat pinggang.

Tapi minggu lalu, akhirnya saya diajari untuk mulai mengenal inflasi sebagai ‘musuh’, yg harus mulai diperhitungkan. FinClic Mom nama programnya, diadakan oleh QM Financial yg digawangi oleh financial planner ternama, Ligwina Hananto. Untuk program seharga Rp 250.000, saya mendapatkan pengetahuan yg tidak sebanding nilai dengan harganya. Belum lagi, plus-plus yg lain yg tumben-tumbennya saya dapat, 2 kali door prize 😀

Kembali ke perkenalan saya dengan inflasi sebagai ‘musuh’. Kenapa musuh? Karena inflasi bisa ‘membunuh’ hidup kita dan keluarga kita perlahan-lahan, bahkan tanpa kita sadari. Membunuh bukan secara harafiah ya, meskipun ujungnya nanti bisa jadi sama juga. Membunuh disini berarti mengucapkan selamat tinggal kepada standar hidup yg kita dahulu pernah jalani atau yg kita impikan, misalnya untuk diri sendiri atau anak-anak kita kelak.

Sesuai judul dari programnya, FinClic Mom ini diperuntukkan bagi para calon ibu/ibu yg memiliki perhatian khusus mengenai pembiayaan anak. Perhatian khusus ini juga bisa dibaca sebagai kekuatiran, mengingat kebutuhan seorang anak selain layak hidup juga layak didik.

Saya pribadi terus terang, sebelum mengikuti program ini, kuatir dan bertanya-tanya pada diri sendiri, what if I can’t afford a baby? Pesimis ya? Iya, saya pesimis. Maka dari itu saya mencari pertolongan dan program ini saya harapkan bisa menjadi pertolongan itu. And it was more than help 🙂

Orang tua saya, pada jaman mereka dan dengan metode mereka, berhasil mengantarkan saya dan keempat saudara saya pada sebuah gelar pendidikan di atas SMA, minimal diploma atau sarjana. Kenyataan ini menjadi standar minimum bagi saya pribadi untuk calon anak saya. Namun masa orang tua saya dan masa kini tentu berbeda, khususnya dalam hal pembiayaan, lagi-lagi salah satunya karena inflasi.

Maka dimulailah program itu dengan rincian, rincian dan rincian. Dari rincian di kala seorang ibu mengandung anaknya sampai dengan rincian pembiayaan pendidikan si anak sampai dengan sarjana. Sebelum itu, kami juga disuguhi rincian net worth kami masing-masing, yg cukup menciutkan semangat untuk mengalahkan si inflasi ini.

Namun, seiring dengan penjelasan dari Mbak Wina yg sangat ringan dicerna, inflasi ini menjadi musuh yang mudah ditebak. Dengan berbekal berbagai produk perbankan dan keuangan, juga perencanaan sedini mungkin, hidup kita dan anak-anak kita kelak sungguh bisa terhindar dari gilasan roda inflasi. Jadi kita bisa hidup, benar-benar hidup 🙂

Memang inflasi adalah musuh yg perlu diperhitungkan, secara berkala. Dengan perencanaan yg baik, niscaya musuh yg satu ini bisa ditangani dengan baik. Namun, satu musuh besar bebuyutan, berhasil saya kalahkan hari itu. Moha, kebingungan yg berawal dari ketidaktahuan. Kini, saya tahu dan bye-bye Moha.

PS: I am ready to accept ‘kemane ajee lo?’ comments 😀

Edema vs. Warrior Pose

I’m having a one sided edema 2 days ago. Just my right foot. Its kinda funny actually, but still can’t figure why in the hell my right foot is swelling more than my left foot.
I use you both equally, no? *I asked my feet the other day*

Edema or swollen ankles and feet is common during pregnancy, esp in the last trimester, which I am now. Its basically a fluid pool in the tissue due to unbalanced blood circulation during pregnancy, since the uterus is pressing the pelvic veins and the vena cava, which supposedly carry blood from the lower limbs back to the heart.

As common as it is, I would like to care about it and trying to reduce the symptom. And so, I add poses focusing on feet strength on my morning yoga. One of them is warrior pose, which I find it very on-point in terms of my swelling right ankle and foot.

Warrior Pose

Took only 1 time exercise actually, as yesterday I noticed my right ankle and foot was not as swollen as the day after.
But here is the result after 2 days.

Edema vs Warrior Pose.
Who’s winning? 🙂

Berapa kamu punya nyawa?

Pertanyaan konyol bukan?
Mahluk yg katanya punya 9 nyawa saja, kucing, sebenarnya ya cuma punya 1 nyawa. Lha ini manusia, yg katanya mahluk sempurna karena punya akal budi, menghargai nyawanya yg cuma 1 saja, susahnya minta ampun. Akal budi kalau tidak bernyawa ya tinggal bangkai saja bukan?

Menyeberang jalan tidak pada jembatan penyeberangan. Atau bahkan lebih konyol lagi, menyeberang jalan di bawah jembatan penyeberangan.

Berkendara roda dua tanpa menggunakan helm pelindung kepala. Belum lagi cara berkendara, jumlah penumpang yg dibawa dan usia penumpang yg kadang tidak masuk di akal untuk dibawa berkendara.

Dua dari sekian banyak contoh yg menggambarkan betapa murahnya nyawa manusia, setidaknya di Jakarta dan sekitarnya, tempat kami tinggal.

Hello, Death.

Pernahkah satu pagi, satu saat, datang satu kesadaran bahwa nyawa itu tersedia hanya satu saja?
Tidak ada stock untuk substansi yg satu itu.

 

 

Kucing dan Kami

Tema minggu ini adalah bagaimana kucing ‘mengatur’ kehidupan keluarga kecil dan besar kami.

Beberapa hari lalu, Bapak dan Mamah datang dari Jogjakarta untuk menghadiri wisuda kelulusan adik. Jogjakarta-Jakarta ditempuh dg menggunakan jalan darat, tujuannya selain memudahkan transportasi sewaktu di Jakarta, juga setelah selesai wisuda, beberapa barang adik akan dibawa kembali ke Jogjakarta.

3 anak kucing, Nano, Tata, dan Saka mengubah skenario.

Menunggu penempatan kerja, adik akan kembali ke Jogjakarta setelah segala urusan selesai. Sehingga 3 anak kucing beserta induknya yg selama ini difoster di rumah Bintaro bisa jadi keteteran karena selama ini yg memelihara mereka adalah adik. Akhirnya diputuskan 3 anak kucing ini dibawa serta ke Jogjakarta beserta adik, untuk menjaga mereka selama perjalanan.

Kabar tadi pagi, si Embok, induk 3 anak kucing ini, tidak merelakan anak-anaknya dibawa dg kandang dan terus mengikuti sampai ke dalam mobil. Akhirnya Mamah pun luluh dan membawa serta si Embok :’) *oh so sweet*

Embok dan anak-anak di kandang dalam mobil, siap berangkat ke Jogjakarta

Hampir bersamaan waktunya, suami mendapatkan kabar dari kantornya tentang penugasan di Singapura untuk beberapa waktu, dimulai bulan depan.

3 kawanan kucing, Monceng, Apung dan Ontil di rumah adalah kunci bagaimana kami akan menyikapi penugasan suami ini, mengalahkan kehamilan saya yg menginjak trimester terakhir.

Kebetulan kami saat ini tidak memperkerjakan asisten rumah tangga karena kami rencananya masih ingin menunggu sampai dengan saat menjelang kelahiran. Dengan hanya kami berdua di rumah, meninggalkan kekucing lebih dari sehari semalam bukan pilihan.

Jika keperluan kami meninggalkan rumah masih dalam hitungan hari, kurang dari seminggu, penitipan adalah solusinya. Namun jika suami pergi untuk yg cukup lama, dan hanya saya sendiri di rumah, memelihara kekucing akan menjadi sebuah tantangan, terutama mengurus kebersihan karena kondisi kehamilan yg tidak disarankan untuk bersentuhan langsung dg kotoran kucing.

Jadilah kami kalang kabut mencari asisten rumah tangga secepat mungkin. Bahkan, as Im being myself, an obsessive planner, saya menyusun skenario untuk kemungkinan yg paling tidak diinginkan, yaitu ketika saatnya tiba saya melahirkan dan suami masih ditugaskan di Singapura, terpaksalah saya boyongan kembali ke Jogjakarta beserta 3 kawanan kucing ini.

Mon-Pung-Tel

Inilah, kami dan kucing 🙂

 

Oia, kami juga sedang menantikan satu kucing yg sengaja dikirim ke Jakarta dari Jogjakarta untuk bergabung di keluarga kecil kami. Molen.

Molen
Molen

 

BBM di Android dan iOS, lalu?

20130922-161203.jpg
Heboh pagi tadi adalah ketika hampir semua teman mengumumkan PIN baru mereka, setelah sukses menngunduh aplikasi BBM di perangkat berplatform Android dan iOS. Dimana kehebohan ini sangat dipahami, mengingat betapa ‘berharganya’ interaksi via BBM ini bagi beberapa teman, apalagi jika terkait dengan penghidupan.

Sedangkan perangkat BB sendiri mulai ditinggalkan peminatnya, setelah booming sekian tahun yg lalu. Pun dikeluarkannya seri terbaru dg OS terupdate pun tidak mampu mendongkrak penjualan perangkat ini. Namun menariknya, banyak pengguna BB yg masih bertahan dg perangkat ini karena satu aplikasi saja, BBM.

Maka dengan sendirinya, ketika aplikasi BBM ini dikabarkan akan hadir di plaform perangkat selain BB, sambutannya sungguh hangat (baca: heboh). Hari ini dan kemaren adalah hari dimana seharusnya BBM sudah dapat diunduh di Android playstore dan Apple App Store.

Untuk yg masih bertahan dg perangkat BB, sangat dimaklumi ketika aplikasi BBM menjadi lintas platform, dilihat sebagai momen untuk meninggalkan perangkat BB dan menggunakan perangkat dg platform Android atau Apple, yg secara teknis dan varian lebih unggul dan jamak. Maka, hebohlah dunia menyambut momen ini.

Namun, yg menarik di sini sebenarnya bukan semata aplikasi BBM yg menjadi lintas platform saja. Tapi sudah beberapa waktu belakangan ini, banyak aplikasi chatting lain yg sama bahkan lebih banyak fiturnya dibandingkan dg BBM. Dan sudah banyak juga yg menggunakan selain BBM di lingkungan profesional (dari lingkungan saya menggunakan Line dan WhatsApp). Jadi ‘ketergantungan’ terhadap satu aplikasi BBM itu seperti tidak perlu.

Bahkan menjelang momen lintas platform BBM, satu artikel membandingkan BBM dg WhatsApp. Dari 5 poin yg dibahas, yg paling signifikan mungkin fasilitas ‘delievered’/’read’ dan ‘PING!’ di BBM yg tidak ada di WhatsApp. Juga metode invitation unt menambah kontak di BBM, dimana di WhatsApp, tidak ada invitation selama nomor SIM card kontak tertandai aktif, semua orang yg mengetahui nomor tsb bisa memulai percakapan. WhatsApp unggul di jumlah anggota grup, yaitu 50 kontak dibanding BBM yg terbatas di angka 30.

Namun bagi saya, keuntungan di BBM, seperti notifikasi ‘PING!’, ‘delievered’, dan ‘read’ tidak terlalu menguntungkan. Karena pada dasarnya, perangkat ponsel sudah dilengkapi dg notifikasi yg cukup. Apakah pesan tersampaikan, di WhatsApp ditandai dg 2 centang, membantu tapi tidak menjadi prioritas. Jika kebutuhan untuk menghubungi kontak ybs itu sangat urgent, biasanya saya akan telepon.

Invitation yg ada di BBM sebenarnya cukup membantu untuk menyortir kontak yg tidak jelas. Namun di WhatsApp yg saya pakai, versi 2.11.4, sudah dilengkapi dg fasilitas blok kontak.

Jika memang BBM sudah menjadi kebutuhan profesional, seperti rekan kerja, klien, dan atasan hanya menggunakan aplikasi BBM, dg kuota anggota grup WhatsApp yg hampir 2 kali lipat kuota BBM potensial menjadi daya jual. Begitu bukan?
*meskipun setelah mempengaruhi teman-teman untuk menggunakan WhatsApp, kita nda dapet royalti juga sih :P*

Jadi, setelah banyak tersedia aplikasi chatting seperti WhatsApp, masih perlukah mengunduh BBM di platform Android atau iOS?
Saya kira kok tidak belum perlu.

Update terkini tentang BBM lintas platform: tunda rilis untuk Android dan kelebihan kapasitas di pihak Blackberry.

Retirement Plan

What is your retirement plan?

This morning, along the way to work, I’m listening to a radio which the topic is ‘retirement plans’. Various opinions via twitter and from callers. Mostly they want to settle somewhere remote and do their hobbies.

There’s this one caller, said he’s a GM of a 3 stars hotel in Jakarta. As he already dealing with people, from guests in the hotel and the hotel management, he plans his retirement away from humans and close to goats. LOL 😀

The other caller is explaining how he now has a quite large land back home and he’s planning to live a monk-like life there when he’s retire.

I cant help thinking, why the hell we do almost everything at this moment, busting our asses off, just to be able to do nothing in our later life? Its kinda funny, no?