Tersesat di Seribu Ombak

Persahabatan Wayan Manik, Samihi dan Syamimi berangkat dari konflik. Konflik yang kemudian membuka jalan untuk perbedaan bersanding hidup dengan damai.

Bagaimana Wayan Manik bersikap ketika Samihi beribadah dan sebaliknya bagaimana Samihi menerima saran Wayan Manik untuk belajar dari guru kidung untuk keperluan mengaji menunjukkan perbedaan tidak harus berkonflik.

Ketika persahabatan dalam perbedaan harus direlakan bercampur dengan isu pergaulan setempat, dalam hal ini pergaulan yang rawan di tempat wisata seperti Singaraja, Bali dan kisah percintaan yang anehnya musti berakhir dengan bunuh diri, meski bersambut gayungnya, inti pesan moralnya menjadi kabur.

Sekabur tafsiran ‘pulang’ ke rumah seribu ombak yang berkali-kali dengan gesture ritual persembahan, sungguh dapat menyampaikan pesan moral bahwa ‘pulang’ atau bunuh diri itu tindakan yang dibenarkan.

Meski terharu biru mendapatkan film yang mau mengangkat isu perbedaan sekaligus mengingatkan akan kampung halaman, terus terang saya mendapatkan diri saya tersesat di akhir cerita.
Sayang..

20120912-235608.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *