Hari Ibu, Katanya..

Hari ini, kata ‘ibu’ dan atau yg sepadan artinya banyak disebutkan melalu berbagai macam media. Dari media percakapaan pribadi, media sosial, sampai media mainstream. Dan memang, hari ini adalah hari yg disepakati sebagai hari Ibu, setidaknya di Indonesia.

Tidak ada yg salah, pastinya. Karena semua orang lahir di dunia ini melalui rahim seorang ibu. Tidak berlebihan rasanya, ketika kebanyakan orang memiliki ikatan paling kuat dengan sang ibu. Tak kurang juga cara dari berbagai masyarakat untuk memperingati hari Ibu. Dari sekedar memberikan ucapan, hadiah sampai dengan mengadakan acara cuci kaki ibu massal dan sungkeman massal.

1 di antara 365 hari. Di sisa hari lain, sudah terjaminkah para ibu ini? Dan saya tidak hanya merujuk pada seorang yg sudah atau akan menjadi ibu saja ya, melainkan sosok yg disimbolkan oleh sosok ibu, yakni perempuan.

Beberapa teman berbagi cara mereka memperingati hari Ibu, yakni dengan mengajak laki-laki dalam keluarga mereka bertukar posisi dengan ibu. Dari mulai membersihkan rumah, mengurus anak, ke pasar sampai memasak/membeli lauk. Sedih sedikit terselip di benak, karena secara tidak langsung, mereka sudah menerangkan apa arti posisi ibu/perempuan bagi mereka (yg, maaf, segitu doang?).

Eh, saya tidak bicara emansipasi ya di sini. Karena, secara pribadi, saya memandang perempuan itu tidak membutuhkan emansipasi, in the first place. Kenapa? Karena tidak ada yg kurang dari seorang perempuan dan pastinya perempuan itu tidak sama dengan kelemahan.

Berumah tangga hampir 2 tahun dan bulan depan, astungkara, seorang anak akan melengkapi rumah tangga kami, semakin membuka mata saya tentang kedudukan seorang perempuan. Ya, saya membersihkan rumah. Ya, saya akan mengurus anak saya. Ya, saya belanja dan memasak untuk keluarga saya. Semua itu saya kerjakan bukan semata-mata karena saya seorang perempuan/ibu dalam rumah tangga. Suami juga membersihkan rumah, akan mengurus anak, berbelanja bersama saya. Khusus untuk memasak, suami sudah menyerah 😀

Saya perempuan, saya bakal ibu. Tapi semua yg dikatakan ‘sudah menjadi tugas perempuan’ saya kerjakan bukan karena kelamin saya perempuan yg memungkinkan saya menjadi seorang ibu dg melahirkan. Saya mengerjakan semua kegiatan (bukan tugas, yg kesannya dipaksakan) itu karena saya mencintai. Mencintai siapa? First and foremost, saya tentu mencintai diri saya sendiri, saya mencintai suami, saya mencintai bakal anak, saya mencintai kekucing di rumah, saya mencintai rumah tangga, saya mencintai rumah yg kami tempati, intinya ya saya mencintai.

Bicara cinta, meski terdengar gombal nan di awang-awang, tidak cukup hanya sehari. Cinta ya, mau tidak mau, harus dipupuk dipelihara setiap saatnya. Saya termasuk yg meyakini cinta itu bisa mati bukan karena benci, karena benci itu cinta dalam dosis yg berlebih. Cinta mati karena pembiaran.

Satu hari, secara simbolis, didedikasikan untuk sosok perempuan (ibu atau bukan), itu sangat baik. Dan akan menjadi sayang jika kita tidak menyikapi dan memaknai satu hari ini dengan seutuhnya. Ucapan, hadiah, gesture membasuh kaki, sungkem semoga tidak hanya sekedar di permukaan atau euforia semata. Rasa terima kasih dan bhakti kepada sosok ibu khususnya, dan pada sosok perempuan dimana pun juga, berawal dari cinta yg sangat bisa dipupuk untuk berkembang dari satu hari mengingat mereka hingga kita bisa menempatkan mereka di posisi yg seharusnya, yaitu sosok per-empu-an, yg dimuliakan, sepanjang masa.

20131222-182125.jpg

Satu Cinta

Kukenal satu cinta
Yang penuh hasrat menggelora

Lain lagi satu cinta
Yang memberi tanpa henti

Ada pula satu cinta
Menggoda dan ceria

Dan satu cinta lain
Tidak berapi, hanya membara

Tapi cinta satu ini, lain..
Tidak seperti satu cinta yang lain

Cinta yang bisa menyesakkan dada
Cinta yang terhirup seiring nafas
Cinta yang tak berdasar, seberapa dalam pun kau menyelam
Cinta yang ‘kan ku tukar dengan jiwa

Dan aku..
Aku jatuh cinta..

Refleksi: Adakah Cinta untuk Indonesia ?

Ketika rutinitas dan ritual mewarnai hampir seluruh aspek kehidupan kita, pernahkah terlintas dalam benak kita, adakah cinta untuk Indonesia kita ini ?. Cinta yang dimaksud disini adalah cinta yang mewujud. Bukan hanya cinta yang dipendam atau sebatas diucapkan saja.

Beberapa waktu lalu, saya mengalami kejadian yang tidak pernah terpikir bisa saya alami. Saya menjadi salah seorang korban dalam tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang hendak memaksakan kepentingan golongannya atas konstitusi negara ini. Tragedi kekerasan yang sudah melecehkan landasan negara ini, yaitu Pancasila, tepat di hari kelahirannya. Kejadian itu sangat membekas dalam diri saya, baik secara fisik maupun mental. Namun reaksi yang terjadi dalam diri saya, justru sama sekali di luar dugaan.

Sebelum mengalami tragedi, saya mengerti bahwa sebagai warga negara saya wajib mengenal bangsa dan simbol-simbol negara ini. Dan saya juga mengerti tentang nasionalisme dan bahwa saya harus menyebarkan semangat nasionalisme ini. Tragedi ini seharusnya membuat saya jera menyebarkan semangat nasionalisme ini. Karena saya berhadapan langsung dengan orang-orang yang jelas-jelas tidak memahami nasionalisme dengan menodai salah satu simbol negara, yaitu Pancasila, dengan kekerasan. Saya telah menyaksikan sekelompok orang ingin menghapuskan perbedaan, mulai dari perbedaan internal dalam agama mereka, bahkan tidak menutup kemungkinan sampai perbedaan yang mewarnai Indonesia ini, dengan kekerasan. Namun reaksi yang muncul justru sebaliknya. Saya sama sekali tidak jera. Hari itu saya menyaksikan betapa Ibu Pertiwi ini sudah dinodai. Hari itu saya telah menyaksikan betapa bangsa dan negara ini diambang perpecahan. Saya tidak boleh jera. Tiba-tiba saya jatuh cinta kepada bangsa dan negara ini. Saya tergila-gila untuk tetap menyuarakan kecintaan saya kepada Indonesia kita ini.

Rasa cinta yang mengubah keseharian saya, ritual dan rutinitas saya, menjadi sebuah persembahan bagi Ibu Pertiwi. Dan rasa cinta ini terlalu besar untuk saya pendam sendiri. Saya harus berbagi. Berbagi ‘suara’, baik lisan maupun tulisan. ‘Suara‘ yang lembut namun tegas. ‘Suara’ yang akan membuat sekelompok orang di luar sana, yang memiliki agenda atau skenario apapun untuk mengganti Pancasila, memecah belah persatuan bangsa, atau memaksakan kehendak golongan atas konstitusi negara ini, berpikir dua kali. ‘Suara’ yang akan mempertahankan Pancasila sebagai landasan negara, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, dan menjunjung tinggi konstitusi negara ini. ‘Suara’ yang akan tetap melawan tanpa kekerasan.

Menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia ke 63 tahun, masih adakah cinta untuk Indonesia kita ini ? Cinta yang mewujud dalam keseharian, dalam menghadapi segala ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang menghadang. Semua diawali dari diri sendiri, dari diri anak bangsa yang mencintai Ibu Pertiwinya.

Surat Cinta untuk Habib Rizieq dan Munarman dari Korban Tragedi Monas

Salam damai.
Semoga damai selalu menyertai Bapak berdua.

Semoga saya tidak terlalu lancang mendoakan kedamaian untuk Bapak berdua. Karena saya tahu belum ada kedamaian di dalam hati Bapak berdua. Darimana saya tahu ? Dari tragedi Monas, 1 Juni 2008. Tragedi yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri dan bahkan sempat menjadi salah satu korban yang memerlukan perawatan intensif. Penyerangan yang dipimpin langsung oleh Bapak Munarman dan ‘mungkin’ diketahui oleh Bapak Habib. Dari tragedi itulah saya mengetahui belum ada kedamaian dalam diri Bapak berdua.

Tragedi itu membuat saya dan beberapa saudara sebangsa kita terluka. Luka fisik kami dapat sembuh, trauma mental kami dapat kami atasi dengan berbagai macam terapi. Namun saya melihat Andalah yang paling terluka diantara kami semua. Saya belum pernah melihat kebencian dan amarah sehebat itu dalam diri seorang manusia. Dan saya tidak bisa membayangkan betapa beratnya Anda menanggung semua beban itu. Kebencian Anda, amarah Anda, dan kekerasan yang muncul karenanya dapat memakan anda hidup-hidup.

Terlepas dari semua yang telah Anda lakukan, kekerasan tanpa pandang bulu, pembenaran kekerasan tersebut atas nama agama, pengalihan isu kekerasan menjadi isu agama yang berpotensi memecah belah kesatuan kita sebagai sebuah bangsa, dan upaya-upaya penghinaan terhadap Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, saya tetap menghargai anda sebagai sebagai manusia Indonesia. Karena apapun konsep yang Anda gunakan untuk menafikan hal tersebut, Anda, para korban, kita semua tetap saudara sebangsa, bangsa Indonesia. Kita sama-sama hidup dari bumi pertiwi ini, kita sama-sama mempunyai kenangan, ikatan terhadap tanah air kita ini. Meski terlahir dari latar belakang yang berbeda, seperti Anda yang terlahir dari keluarga Muslim dan saya yang terlahir dari keluarga Hindu, seperti Anda lelaki dan saya perempuan, saya meyakini satu persamaan di antara kita yaitu, kita sama-sama orang Indonesia.

Perbedaan kita adalah sebuah kepastian. Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk menghapus kenyataan tersebut. Begitu juga dengan perbedaan yang lain, katakanlah perbedaan dengan aliran lain, yang berkat ancaman ‘kekanakan’ Bapak Munarman, kelompok minoritas tersebut sekarang terancam jiwanya. Saya tidak mendukung atau membenarkan aliran tersebut, karena jelas saya bukan orang yang tepat untuk memberikan pendapat mengenai hal tersebut. Namun keberadaan kelompok minoritas tersebut dengan kelompok Anda berdua adalah sama. Keduanya menuai pro dan kontra dari sejak lama. Namun selain kelompok Anda, tidak ada kelompok lain yang mengancam keberadaan kelompok lain dan bahkan sekarang kelompok Anda adalah satu-satunya kelompok yang terbukti telah sering kali mengganggu ketertiban dan keamanan umum serta melecehkan aparatur negara bahkan Presiden RI.

Pancasila dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ adalah pemersatu bangsa. Kondisi bangsa kita yang terdiri dari beribu pulau, beragam suku, ras dan agama, dapat dipersatukan selama puluhan tahun oleh kesaktian Pancasila. Lagi-lagi, kenyataan ini tidak dapat Anda nafikan karena keberadaan Indonesia saat ini ada bukti nyata. Apapun skenario yang Anda punya untuk menghapus perbedaan itu, mulai dari mengalihkan isu kekerasan menjadi isu pembubaran aliran agama tertentu sampai dengan menyebarkan isu penggantian landasan negara ini dengan landasan agama tertentu, sepertinya tidak akan berjalan mulus tanpa hambatan. Seperti pada tragedi Monas yang Anda coba alihkan menjadi isu agama, keberadaan Saya, perempuan yang beragama Hindu, yang sedang merayakan hari kelahiran Pancasila, yang tak luput dari serangan, mematahkan semua isu yang Anda coba munculkan. Begitu pula kalau Anda mencoba mengangkat isu penggantian landasan negara kita ini. Saya yakin, selain Saya sendiri, lebih banyak masyarakat yang mencintai perdamaian dan mampu melihat keindahan dalam perbedaan.

Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, apa yang Anda takutkan dari perbedaan ? Dan mengapa Anda takut sekali akan perbedaan ? Perbedaan adalah rahmat dari Tuhan, jika saya tidak salah mengutip dari kitap suci Anda.

Maka dari itu, saya sarankan Anda berdua untuk mulai berdamai dengan diri Anda masing-masing. Olah kebencian dan amarah Anda dengan cara yang lebih sehat, misalnya dengan bernyanyi dan menari. Kemudian bernyanyi dan menari untuk ke-Indonesia-an kita. Niscaya, Anda akan temukan sesuatu yang lebih indah. Dan perbedaan yang selama ini selalu memicu jenggot Anda untuk terbakar, akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih indah. Oh iya, setelah Anda selesai dengan diri Anda sendiri, jangan lupa untuk menyebarkan keindahan yang Anda temukan kepada seluruh laskar Anda. Indonesia akan menjadi jauh lebih indah tanpa kebencian dan kekerasan dari Anda dan seluruh laskar Anda.

Salam cinta dan damai untuk Anda berdua.


Nyoman Aisanya Wibhuti

Ayat Ayat Cinta

– http://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1819 –

Film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy ini berkisah tentang seorang Fahri (Fedi Nuril), seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar, Mesir.

Fahri yang bertetangga dan berteman dekat dengan Maria (Carissa Putri), seorang Kristen yang menyukai Al-Quran.

Fahri yang menaruh empati pada Noura Bahadur (Zaskia Adya Mecca) karena kerap mendapatkan siksaan dari ‘ayah’nya.

Fahri yang terkenal di perkumpulan mahasiswa Indonesia lainnya sebagai laki-laki yang cerdas pun alim, sehingga Fahri sering kali mendapat surat cinta dari para wanita yang ingin menjadi ‘halal’ baginya dan salah satunya adalah Nurul (Melanie Putria).

Fahri yang begitu tegas membela seorang asing di dalam subway, yang sedang diancam oleh seorang Arab karena menganggap orang asing adalah kafir dan teroris yang sebenarnya. Fahri membelanya dengan kutipan bahwa ‘barangsiapa menyakiti orang asing, maka ia pun telah menyakiti Nabi Muhammad SAW dan Allah SWT’. Dan kejadian itulah yang mempertemukan Fahri dengan Aisha Greimas (Rianti Cartwright) dan membuat keduanya jatuh cinta.

Dan Fahri yang bimbang menentukan pilihan untuk menikah dengan siapa, mengingat telah banyak perempuan yang memberinya surat cinta dan sang Ibu di tanah air yang selalu mengingatkannya untuk menikah, dan akhirnya menerima tawaran ta’aruf dari guru talaqinya, Syeh Utsman, dengan seorang gadis yang ternyata adalah Aisha.

Menikahlah Fahri dan Aisha. Mematahkan hati setiap gadis yang menaruh hati kepada Fahri.

Namun yang terjadi kemudian tidak hanya sekedar patah hati. Fahri diminta untuk menikahi Nurul, karena paman Nurul percaya, Fahri mampu berlaku adil. Pada saat yang bersamaan, Fahri dituduh telah memperkosa Noura. Dan tanpa sepengetahuan Fahri, Maria menjadi korban tabrak lari.

Ancaman hukuman mati mengharuskan Fahri untuk membuka semua masa lalunya kepada Aisha, demi membuka jalan untuk kebebasannya. Setelah permohonan tes DNA ditolak, dan kesaksian-kesaksian yang memberatkan, Fahri teringat akan Maria, saksi kunci pada peristiwa pembebasan Noura dari Bahadur yang ternyata bukan ayah kandung Noura. Maria adalah harapan terakhir Fahri.

Ditemukan dalam keadaan tidak sadar akibat penyakit yang mendera Maria, Aisha harus menerima kenyataan bahwa Maria sangat mencintai Fahri sampai mengorbankan kesehatannya. Dan demi kesembuhan Maria, Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria.

Fahri mendapat kebebasannya kembali setelah Maria bersaksi dan Noura mengakui fitnahnya, bahwa bukan Fahri yang memperkosanya melainkan Bahadur. Noura memilih Fahri selain karena mencintainya, juga karena sakit hati setelah mengetahui bahwa Fahri telah menikah dengan Aisha setelah Noura sempat memberinya surat cinta.

Kehidupan tidak berhenti. Begitu pula dengan segala persoalan hidup.

Setelah bebas dari hukuman mati, Fahri dihadapkan dengan dilema mempunyai dua istri, dimana dia harus berlaku adil. Dan Fahri menemukan ikhlas sebagai solusinya. Namun kebahagian tak lama dikecap. Maria jatuh sakit. Dan seolah tahu bahwa maut telah dekat, Maria membuat permintaan terakhir, yaitu belajar sholat agar ia bisa sholat bersama Fahri dan Aisha.

Maria pergi dalam kedamaian sholat..

Setelah menonton film ini, aku jadi ngga sabar pengen baca bukunya.
Wekzz.. telat banget ya ? 😛

Tapi ngga seperti biasanya loo, aku kalo pas nonton Harry Potter, mulai dari sekuel ketiga, aku stop baca bukunya. Karena nonton filmnya uda memuaskan. Kalo yang ini, nonton filmnya justru malah semakin penasaran ama bukunya. Karena filmnya, menurutku, engga memuaskan.

Awalnya memang menarik. Deskripsi tentang karakter Fahri yang menjadikan Islam sebagai way of life-nya sangat pas mengena. Tapi setelah adegan Aisha memaksa Fahri menikahi Maria, mendadak film ini jadi semi-sinetron. Maria sakit keras, tapi tanpa setting peralatan medis yang menunjang. Aisha jatuh sakit di taman, seketika itu juga ada suster yang sedang bawa kursi roda datang.

Dan pertanyaan aku yang paling besar adalah,
kenapa Fahri harus menikahi Maria ?

Oke, memang Maria sangat mencintai Fahri, tertulis rapi dalam buku harian Maria. Tapi dengan menikahinya dan tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, karena Maria masih tidak sadar, secara logika (-ku) bukan merupakan solusi untuk menyembuhkan Maria.

Dan ketika Maria sadar setelah Fahri selesai mengucapkan ijab kabul, betapa film yang dinanti sekian banyak orang ini berubah menjadi sebuah sinetron.

Sedikit kecewa. Tapi jadi semakin penasaran pengen baca bukunya!