Cerita 2 Kelereng

Satu malam, kami begadang.
Saya dan kakak perempuan satu-satunya.

Dari kecil kami tidak pernah janjian untuk menjadi dekat atau melindungi satu sama lain. Yg ada malah lempar-lemparan kaos kaki, rebutan celana dalam (yap, jaman kami kecil, kami miskin se-celana dalam-nya), jarang bertegur sapa padahal sekamar, lucu!

Namun setelah sama-sama bertumbuh, sekali dua kali tempo, kami berdekatan.
Momen kakak yg memutuskan untuk menikah muda.
Traktiran makan siang kakak, yg memang berpenghasilan lebih dahulu.
Dan momen-momen lain yg terus bergulir, baik senang, susah maupun hampir celaka.

Begadang waktu itu adalah ketika saya hendak menikah dan sedang di Bali untuk melakukan pemotretan pra-nikah. Pertanyaan setiap gadis sebelum menikah mungkin hampir sama, ‘Bagaimana cara mengetahui bahwa pasangan kita adalah jodoh kita yg sebenarnya?’

Kata kakak malam itu, ‘Ya engga ada yg tahu. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, ibarat 2 kelereng dijadikan satu dalam satu mangkuk. Semua karma ya akan menjadi satu.’

Demikian pesan mertua kakak, yg diteruskan kepada saya malam itu.
Tidak pernah terbayang apa maksud cerita 2 kelereng dalam mangkuk itu sampai saat ini.

Kelereng 1 bertindak, berkarma pasti akan mengenai, menumbuk kelereng 2 karena berada dalam satu mangkuk bernama pernikahan. Begitu pula sebaliknya. Dan akan semakin banyak tumbukan ketika jumlah kelereng bertambah. Siapkah untuk bertumbukkan? Itu pertanyaan yg seharusnya saya kontemplasikan malam itu.

Malam yg sama, dimana Pekak (kakek) mendatangi saya dalam mimpi dan bertanya, ‘Apa kamu yakin mau menikah dengan Komang?’

Hiks..

Gian Journal: The Milestone (up to 3m)

The usual expression, time flies.
But with babies, time seems like a shadow. Its like no time at all.
Its been 3 months already since Gian’s departure in this world.
And when I thought I got all figured out, Gian reaches new milestone and there goes the routine we build together *LOL*

 

1 Month +

Marked with a modest ceremony, to thank God and universe for guiding Gian’s departure.

And soon after, I noticed that Gian started to make many face expressions.

Its the fasted month I’ve had. Too fast. Gian grew too fast.

2 Month +

Celebrating Gian’s 2nd month-versary, we’re having a baby spa.
Watching Gian’s happy and relax expression while having a deep massage is precious.

And since Gian is already weigh more than 5 kg, he can have a baby swim session. Cute to the max!
No cry baby, Gian loves being in the water.

Grab and pull is the next milestone, Gian reached within the month.
The early sign was, he’d join his fingers, then he’d grab by the edges, e.g my shirt edge and finally the round handle.

And PULL! 😀

Gian also developing his sitting skill 😀
Hello, its us! Anak and Mamak nongkrong *LOL*

And just a few days before his 3rd month-versary. Gian managed to lay flat on his stomach and lift his head high.
Voila! Boat pose by baby Gian :3

3 Month +

Now laying on the back is so overrated for Gian.
Its time to lay on the stomach, yeayy! 😛

Its like no baby at all.
Its like a boy, now :’)

And Gian laughs like there’s no such thing as misery in this world :’)

There. Gian’s milestone up to 3 months old 🙂
Lots of love from the 3 of us :-*

Kucing dan Kami

Tema minggu ini adalah bagaimana kucing ‘mengatur’ kehidupan keluarga kecil dan besar kami.

Beberapa hari lalu, Bapak dan Mamah datang dari Jogjakarta untuk menghadiri wisuda kelulusan adik. Jogjakarta-Jakarta ditempuh dg menggunakan jalan darat, tujuannya selain memudahkan transportasi sewaktu di Jakarta, juga setelah selesai wisuda, beberapa barang adik akan dibawa kembali ke Jogjakarta.

3 anak kucing, Nano, Tata, dan Saka mengubah skenario.

Menunggu penempatan kerja, adik akan kembali ke Jogjakarta setelah segala urusan selesai. Sehingga 3 anak kucing beserta induknya yg selama ini difoster di rumah Bintaro bisa jadi keteteran karena selama ini yg memelihara mereka adalah adik. Akhirnya diputuskan 3 anak kucing ini dibawa serta ke Jogjakarta beserta adik, untuk menjaga mereka selama perjalanan.

Kabar tadi pagi, si Embok, induk 3 anak kucing ini, tidak merelakan anak-anaknya dibawa dg kandang dan terus mengikuti sampai ke dalam mobil. Akhirnya Mamah pun luluh dan membawa serta si Embok :’) *oh so sweet*

Embok dan anak-anak di kandang dalam mobil, siap berangkat ke Jogjakarta

Hampir bersamaan waktunya, suami mendapatkan kabar dari kantornya tentang penugasan di Singapura untuk beberapa waktu, dimulai bulan depan.

3 kawanan kucing, Monceng, Apung dan Ontil di rumah adalah kunci bagaimana kami akan menyikapi penugasan suami ini, mengalahkan kehamilan saya yg menginjak trimester terakhir.

Kebetulan kami saat ini tidak memperkerjakan asisten rumah tangga karena kami rencananya masih ingin menunggu sampai dengan saat menjelang kelahiran. Dengan hanya kami berdua di rumah, meninggalkan kekucing lebih dari sehari semalam bukan pilihan.

Jika keperluan kami meninggalkan rumah masih dalam hitungan hari, kurang dari seminggu, penitipan adalah solusinya. Namun jika suami pergi untuk yg cukup lama, dan hanya saya sendiri di rumah, memelihara kekucing akan menjadi sebuah tantangan, terutama mengurus kebersihan karena kondisi kehamilan yg tidak disarankan untuk bersentuhan langsung dg kotoran kucing.

Jadilah kami kalang kabut mencari asisten rumah tangga secepat mungkin. Bahkan, as Im being myself, an obsessive planner, saya menyusun skenario untuk kemungkinan yg paling tidak diinginkan, yaitu ketika saatnya tiba saya melahirkan dan suami masih ditugaskan di Singapura, terpaksalah saya boyongan kembali ke Jogjakarta beserta 3 kawanan kucing ini.

Mon-Pung-Tel

Inilah, kami dan kucing 🙂

 

Oia, kami juga sedang menantikan satu kucing yg sengaja dikirim ke Jakarta dari Jogjakarta untuk bergabung di keluarga kecil kami. Molen.

Molen
Molen