Cerita 2 Kelereng

Satu malam, kami begadang.
Saya dan kakak perempuan satu-satunya.

Dari kecil kami tidak pernah janjian untuk menjadi dekat atau melindungi satu sama lain. Yg ada malah lempar-lemparan kaos kaki, rebutan celana dalam (yap, jaman kami kecil, kami miskin se-celana dalam-nya), jarang bertegur sapa padahal sekamar, lucu!

Namun setelah sama-sama bertumbuh, sekali dua kali tempo, kami berdekatan.
Momen kakak yg memutuskan untuk menikah muda.
Traktiran makan siang kakak, yg memang berpenghasilan lebih dahulu.
Dan momen-momen lain yg terus bergulir, baik senang, susah maupun hampir celaka.

Begadang waktu itu adalah ketika saya hendak menikah dan sedang di Bali untuk melakukan pemotretan pra-nikah. Pertanyaan setiap gadis sebelum menikah mungkin hampir sama, ‘Bagaimana cara mengetahui bahwa pasangan kita adalah jodoh kita yg sebenarnya?’

Kata kakak malam itu, ‘Ya engga ada yg tahu. Ketika pilihan sudah dijatuhkan, ibarat 2 kelereng dijadikan satu dalam satu mangkuk. Semua karma ya akan menjadi satu.’

Demikian pesan mertua kakak, yg diteruskan kepada saya malam itu.
Tidak pernah terbayang apa maksud cerita 2 kelereng dalam mangkuk itu sampai saat ini.

Kelereng 1 bertindak, berkarma pasti akan mengenai, menumbuk kelereng 2 karena berada dalam satu mangkuk bernama pernikahan. Begitu pula sebaliknya. Dan akan semakin banyak tumbukan ketika jumlah kelereng bertambah. Siapkah untuk bertumbukkan? Itu pertanyaan yg seharusnya saya kontemplasikan malam itu.

Malam yg sama, dimana Pekak (kakek) mendatangi saya dalam mimpi dan bertanya, ‘Apa kamu yakin mau menikah dengan Komang?’

Hiks..