Last Days Tale..

Clueless husband and wife are expecting a baby any day now. Yes, its us πŸ˜€

Dari diskusi tiada akhir, ‘seperti apakah kontraksi itu?’ sampai dengan pertanyaan ‘bagaimana cara memandikan bayi?’. Segala buku kehamilan, parenting, dan referensi online dicoba untuk dicerna pelan-pelan, sambil membayangkan apa yg akan dihadapi nanti.

Sanggupkah? Siapkah? Itu pertanyaan yg muncul ketika kami sedang di ruang kontrol CTG untuk mengetahui apakah sudah dimulai rangkaian kontraksi saya. Jawabannya tentu saja tidak, hahahaa πŸ˜€

Beberapa hari lagi, kehamilan ini akan genap berusia 40 minggu. Sekaligus jadi batas akhir, jika kontraksi tidak kunjung datang, akan diambil tindakan medis. Dan saya pun merasa berhutang untuk bercerita apa yg terjadi selama 40 minggu terakhir ini.

Sebenarnya ragu untuk bercerita, masih enggan, namun rasa berhutang lebih dominan, maka inilah cerita saya.

 

Mei 2013..

Ketika rencana bertabrakan dengan takdir, mengawali cerita kehamilan ini. Sepulang dari Bali untuk keperluan keluarga, dan menjelang suami berangkat ke luar negeri, si bulan tak kunjung datang. Tadaaa! 2 strip, meski samar menghiasi test pack saya.

Kami masih mengira kesamaran di test pack itu menyamarkan kepastian bahwa saya hamil. Dan mencurigai harga test pack yg murah jadi penyebab kesamaran strip. Hahahaha πŸ˜€
Namun, sebelum suami berangkat, kami memutuskan untuk konsultasi dg dsog, daan hasilnya saya memang hamil 4 minggu. Senang? Not at first, frankly speaking.

Saya gundah, gulana tapi bukan gulma.

Segudang rencana yg sudah terbayang dari awal tahun, mendadak buyar karena rencana-rencana itu tidak memungkinkan dilaksanakan dengan tubuh dalam keadaan hamil. Dan kehamilan itu sendiri masih terasa menakutkan buat saya.

Perubahan fisik karena kehamilan, termasuk hormon, pola biologis badan, dsb tidak seberat perubahan mental dan mindset saya. Sempat turun beberapa kilo, sempat dehidrasi, sempat curiga mengidap gejala depresi, sempat tidak mengenali diri sendiri lebih karena pikiran saya yg sudah terlanjur ingin lari kencang, namun dikondisikan untuk berjalan pelan.

Tidak cukup seminggu dua minggu untuk menerima perubahan itu. Butuh kurang lebih 5 bulan untuk akhirnya bisa menyapa ‘buntelan’ dalam perut ini.

(Kenapa ‘buntelan’? Karena sewaktu kontrol ditemani Tita, usia kandungan 6 minggu, Tita hanya bisa melihat buntelan di layar USG. Jadilah panggilannya ‘buntelan’.)

Selama 5 bulan berusaha untuk tidak terlalu terlibat dalam pikiran yg kusut masai ini, ‘buntelan’ sudah sempat menyapa kami duluan. Heloow katanya sambil dadah-dadah.. πŸ˜‰

Tak ketinggalan, ‘buntelan’ juga sudah menunjukkan kebanggaannya kelak.. πŸ˜›

Buns P

5 bulan setelah dinyatakan hamil, kurang lebih 6 bulan usia kandung, baru di suatu pagi sebuah permintaan maaf teruntai untuk ‘buntelan’ terselip dalam meditasi pagi, dan saya pun mulai meninggalkan gundah dan gulana pada tempatnya.

Saatnya mengenakan make-up lagi.
Saatnya jalan santai lagi.
Saatnya nongkrong cantik lagi.
Saatnya ngupi-ngupi lagi meski terbatas pada pilihan decaf.

Tidak terlalu banyak ngidam. Cuma terkadang ingin ini itu, yg masih dalam jangkauan jarak, waktu dan kantong suami πŸ˜› Gejala kehamilan pun sebagian bisa diatasi dengan yoga, yg syukurnya bisa dilakukan tanpa biaya. Eh modal bandwidth deng.. πŸ˜€ Dan semua terasa lambat namun mulai bisa menikmati.

Memasuki trimester terakhir, entah kenapa saya mulai dapat merasakan diri saya sendiri kembali. Mulai bisa menyambung rencana-rencana yg tertunda. Mulai bisa ‘berjalan’ cepat, bermimpi banyak. Dan kemudian tahun berganti..

Januari 2014..

Tinggal menunggu hari-hari terakhir ‘buntelan’ ngerem dalam perut ini. Prediksi tanggal kelahiran pun tinggal prediksi. Sampai saat ini, ‘buntelan’ masih betah sepertinya bergulat dg ari-arinya sendiri..

We might not will be the best parents in the world, but we got you.
Anytime now.. whenever you ‘re ready πŸ™‚

Edema vs. Warrior Pose

I’m having a one sided edema 2 days ago. Just my right foot. Its kinda funny actually, but still can’t figure why in the hell my right foot is swelling more than my left foot.
I use you both equally, no? *I asked my feet the other day*

Edema or swollen ankles and feet is common during pregnancy, esp in the last trimester, which I am now. Its basically a fluid pool in the tissue due to unbalanced blood circulation during pregnancy, since the uterus is pressing the pelvic veins and the vena cava, which supposedly carry blood from the lower limbs back to the heart.

As common as it is, I would like to care about it and trying to reduce the symptom. And so, I add poses focusing on feet strength on my morning yoga. One of them is warrior pose, which I find it very on-point in terms of my swelling right ankle and foot.

Warrior Pose

Took only 1 time exercise actually, as yesterday I noticed my right ankle and foot was not as swollen as the day after.
But here is the result after 2 days.

Edema vs Warrior Pose.
Who’s winning? πŸ™‚

Let Us Grow Together

After more or lessΒ  7 months in denial that I am now in process growing a baby inside my belly, this morning was the first time I actually say something to him.

Its an apology rather than an introduction.

I don’t know why you choose me, and I am truly sorry that you do, since I am no where near as the best ‘vehicle’ to have from all the women in this world. But you chose me anyway. So, let us grow together.